All Out – Passion gets it all

IMG_0789

Seseorang yang mencintai pekerjaannya dan profesinya akan melakukan yang terbaik. Meski kadang yang terbaik termasuk “berani malu.”

Peserta berbagai workshop yang diselenggarakan FA pada umumnya adalah mereka yang sudah bekerja belasan hingga puluhan tahun. Beberapa orang bahkan sudah pernah menduduki posisi top management. Oleh karena itu FA selalu menggunakan pendekatan “Experiential Learning”, dimana proses pembelajaran didasarkan pada pengalaman nyata peserta. Selanjutnya, trainer akan memberikan insights berupa teori, konsep, tips.  Setelahnya, peserta akan mendapatkan kesempatan untuk mempraktekkan teori dan konsep agar mendapatkan pengalaman baru yang pada akhirnya diharapkan bisa mengubah perilaku di tempat kerja.

Salah satu sesi dalam Effective Communication Workshop yang baru-baru ini kami selenggarakan adalah “Grooming.” Sesi ini permintaan khusus dari client. Tentu saja peserta yang sudah belasan bahkan puluhan tahun sudah paham betul bagaimana penampilan yang professional di tempat kerja. Maka, menayangkan slides berisi ulasan “the good vs the bad” tentang grooming akan terasa membosankan bagi mereka.

FA menyajikan sesi Grooming dengan sangat berbeda dan “surprising”. Sesi dimulai dengan sebuah mini drama – mirip OVJ – yang menggambarkan suasana kantor, bos yang berbusana kurang pas, pegawai perempuan yang berbusana seronok, pegawai laki-laki yang berbusana sempurna namun gesture-nya parah, dsb.  Disinilah FA dream team secara ALL OUT menyajikan sesi grooming – berani malu, siap dikritik habis-habisan – demi efektifitas pembelajaran.

Peserta lalu diajak mereview dan memberi komentar mengenai penampilan para aktor aktris dadakan tersebut. Hasilnya: luar biasa. Point-point penting mengenai “The Necessity of Being Professional is To Look Professional” kami gali dari peserta sendiri, tanpa trainer harus menyajikan slides power point yang membosankan dan membuat audiens mengantuk.

Secara alamiah, manusia akan lebih mudah melihat apa yang salah. Apalagi auditor yang tugasnya mengharuskan mereka memiliki sikap “professional skepticism”, harus jeli melihat “what could go wrong” – mencari kesalahan. Maka, dari mini drama tersebut, peserta mampu mengidentifikasi “yang salah” dari penampilan pegawai wanita tersebut – yang diperankan oleh saya – adalah:

  1. Rok terlalu pendek
  2. Warna terlalu mencolok
  3. Leher pakaian dalaman terlalu rendah
  4. Bahan jaket terlalu tipis
  5. Stocking hitam kurang sesuai dengan lingkungan kantor client
  6. Hak sepatu terlalu tinggi
  7. Gaya rambut tidak sesuai untuk ke kantor
  8. Aksesoris tidak cocok untuk ke kantor
  9. Cara berjalan tidak profesional
  10. Memasang earphone sambil bekerja tidak proper
  11. Flirting kepada atasan tidak pantas
  12. Membentak dan mengancam karyawan lain tidak layak
  13. dsb.

Foto terlampir menunjukkan pelayanan yang ALL OUT dari trainer.

 

The Power of Sepuluh Ribu

Dalam setiap program pelatihan yang diselenggarakan FA, kami menerapkan ground rules. Salah satunya adalah denda sepuluh ribu rupiah bagi yang terlambat masuk dari setiap break. Dan bukan hanya yang terlambat yang harus membayar denda, tapi juga setiap anggota tim nya. Ada “preman” yang stand by di pintu kelas dengan glass bowl untuk mengumpulkan denda. Sebagai tanda sesi setelah break akan segera dimulai kembali, kami memutar lagu Black Eyed Peas “Let’s get started”  Jika lagu ini selesai diputar peserta belum masuk kembali ke ruangan, denda sepuluh ribu berlaku.

Ground rules ini diterapkan agar peserta datang tepat waktu – mempraktekkan time management – fokus pada kegiatan pelatihan – menerapkan makna “prioritas” – dan tentunya team spirit karena yang tidak terlambat akan peduli pada temannya yang belum ada di kelas saat sesi sudah akan dimulai sehingga saling mengingatkan.

Bagian yang juga penting adalah “enforcement” terhadap ground rules yang telah disepakati. Di pelatihan yang baru saja kami selenggarakan di Aston Hotel & Resorts Bogor, dihadiri oleh 53 peserta dari perusahaan oil & gas nasional ternama. Denda yang kami kumpulkan dari sesi setelah break pagi mencapai tiga ratus ribu lebih! Ada peserta yang dengan suka rela membayar denda sambil tersenyum, mau menerima konsekuensi dari keterlambatannya. Ada juga yang membayar sambil menggerutu. People are different!

Di sesi-sesi berikutnya, ada beberapa peserta yang mencoba nego. Alasannya: minta ijin terlambat beberapa menit karena harus mengirim email dulu, mengurus ini itu, dsb.  Kami mengijinkan, tapi denda sepuluh ribu tetap harus dibayar. Ada juga peserta yang menggunakan alasan antri makan siang, antri sholat, dsb. Kami katakan yang antri bukan hanya dia. Denda tetap harus dibayar.

Ternyata manjur! yang minta ijin terlambat ga jadi terlambat karena sudah ada yang handle katanya. Nah! Jika terpaksa ternyata peserta mampu mengatur waktunya dengan lebih baik.

Setelah itu, di setiap sesi setelah break, peserta sudah masuk ruangan pelatihan 5 menit sebelum sesi dimulai. Semua! Tidak ada pengecualian.

The Power of Sepuluh Ribu!

Morale of the story: sistem mengatur perilaku manusia. Jika kita ingin manusia tepat waktu, buatlah sistem yang akan membuat mereka tepat waktu. Dan konsistenlah dalam meng-“enforce” konsekuensi nya bagi yang melanggar aturan. Image

 

Most Famous Quotes

Wisdom Quotes

1. You can do anything, but not everything. —David Allen
2. Perfection is achieved, not when there is nothing more to add, but when there is nothing left to take away. —Antoine de Saint-Exupéry
3. The richest man is not he who has the most, but he who needs the least. —Unknown Author
4. You miss 100 percent of the shots you never take. —Wayne Gretzky
5. Courage is not the absence of fear, but rather the judgement that something else is more important than fear. —Ambrose Redmoon
6. You must be the change you wish to see in the world. —Gandhi
7. When hungry, eat your rice; when tired, close your eyes. Fools may laugh at me, but wise men will know what I mean. —Lin-Chi
8. The third-rate mind is only happy when it is thinking with the majority. The second-rate mind is only happy when it is thinking with the minority. The first-rate mind is only happy when it is thinking. —A. A. Milne
9. To the man who only has a hammer, everything he encounters begins to look like a nail. —Abraham Maslow
10. We are what we repeatedly do; excellence, then, is not an act but a habit. —Aristotle
11. A wise man gets more use from his enemies than a fool from his friends. —Baltasar Gracian
12. Do not seek to follow in the footsteps of the men of old; seek what they sought. —Basho

13. Watch your thoughts; they become words.
Watch your words; they become actions.
Watch your actions; they become habits.
Watch your habits; they become character.
Watch your character; it becomes your destiny.
—Lao-Tze

14. Everyone is a genius at least once a year. The real geniuses simply have their bright ideas closer together. —Georg Christoph Lichtenberg
15. What we think, or what we know, or what we believe is, in the end, of little consequence. The only consequence is what we do.—John Ruskin
16. The real voyage of discovery consists not in seeking new lands but seeing with new eyes. —Marcel Proust
17. Work like you don’t need money, love like you’ve never been hurt, and dance like no one’s watching. —Unknown Author
18. Try a thing you haven’t done three times. Once, to get over the fear of doing it. Twice, to learn how to do it. And a third time, to figure out whether you like it or not. —Virgil Garnett Thomson
19. Even if you’re on the right track, you’ll get run over if you just sit there. —Will Rogers
20. People often say that motivation doesn’t last. Well, neither does bathing – that’s why we recommend it daily. —Zig Ziglar

21. Laughing at our mistakes can lengthen our own life. Laughing at someone else’s can shorten it. —Cullen Hightower

21. All men are frauds. The only difference between them is that some admit it. —H. L. Mencken

22. The person who reads too much and uses his brain too little will fall into lazy habits of thinking. —Albert Einstein
23. Believe those who are seeking the truth. Doubt those who find it. —André Gide
24. It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it. —Aristotle
25. I’d rather live with a good question than a bad answer. —Aryeh Frimer
26. We learn something every day, and lots of times it’s that what we learned the day before was wrong. —Bill Vaughan

27. Don’t ever wrestle with a pig. You’ll both get dirty, but the pig will enjoy it. —Cale Yarborough
28. An inventor is simply a fellow who doesn’t take his education too seriously. —Charles F. Kettering

29. Better to write for yourself and have no public, than to write for the public and have no self. —Cyril Connolly

30. I am patient with stupidity but not with those who are proud of it. —Edith Sitwell
31. Normal is getting dressed in clothes that you buy for work and driving through traffic in a car that you are still paying for – in order to get to the job you need to pay for the clothes and the car, and the house you leave vacant all day so you can afford to live in it. —Ellen Goodman

31. Advice is what we ask for when we already know the answer but wish we didn’t. —Erica Jong

32. The trouble with the rat race is that even if you win, you’re still a rat. —Lily Tomlin

33. When a person can no longer laugh at himself, it is time for others to laugh at him. —Thomas Szasz

Menebar CINTA – bukan BENCI

Ada peserta pelatihan (sebut saja Bapak X) yang tidak setuju dengan ungkapan saya “membangkitkan raksasa yang sedang tidur di dalam diri setiap individu”. Alasannya RAKSASA adalah sosok yang RAKus, SemenA-mena, dan SAdis. Peserta itu mengatakan seharusnya “membangkitkan KSATRIA”.

Hmmmm.. He knows that I know everybody knows — bahwa yang saya maksud “awakening the giant within” adalah menggali potensi terhebat dari diri setiap orang dalam konteks yang positif, bukan negatif seperti persepsi yang dia miliki.

Maka, tanpa merasa harus berdebat berkepanjangan mengenai PERSEPSI tersebut, saya minta semua peserta berdiri dan mengangkat tangan kanan, melambaikannya kepada peserta yang memiliki persepsi negatif tersebut sambil mengucapkan: “Bapak X, we love you we support you.”

Bapak X tersipu. Saya minta Bapak X mendekapkan tangan kanan ke dada, membungkuk sedikit, dan mengucapkan “I love you all, thank you.”

Masalah selesai, tanpa harus mempermalukan Bapak X dengan mendebat persepsinya yang keliru.

Saat break makan siang, Bapak X menghampiri saya dan dengan mata berkaca-kaca beliau meminta maaf atas kejadian tadi.

Saya bilang “Bapak, mari kita bangkitkan KSATRIA di dalam diri kita masing-masing.”

Airmatanya terjatuh.

Untuk apa saya mendebat persepsinya? Mungkin saja dia memiliki pengalaman kurang menyenangkan dengan kata RAKSASA, mungkin dia sedang mengingat dongeng masa kecilnya bahwa raksasa adalah sosok yang menakutkan, pemangsa manusia, jahat sehingga harus dibasmi. Atau mungkin dia sedang mengalamai sesuatu yang membuatnya sangat berduka sehingga energi negatif sedang menguasai seluruh jiwa dan raganya. WHO KNOWS?

Maka dengan mentransformasikan energi positif dari seluruh peserta di ruangan itu, saya berharap energi negatif di dalam dirinya kalah dan mati.

Hypno Visual – by Krishnamurti & Vanditya P. Niestra

Ketika sedang menjelajahi deretan buku di toko buku Gramedia.. mataku terpaku pada sebuah buku dengan gambar lebah di batang pohon berjudul Hypno Visual — yang cantik pun belum tentu disukai — karya Krishnamurti & Vanditya P. Niestra. Kubuka lembar demi lembar.. setiap halaman hanya berisi gambar dan kata-kata singkat tapi sarat makna. Kubawa satu ke kasir dan ku bayar.

Tiba di rumah, aku suka sekali isinya, dan kuputuskan untuk menuliskan kata-kata singkat tapi sarat makna ini disini. Buku bisa hilang, tapi insyaallah tulisan di dunia maya akan hadir abadi.

  • Gambar bisa bercerita. Cerita bisa berkata. Itulah dunia. Penun warna-warna indah.
  • Semua menjadi nikmat.. saat disyukuri sebagai rahmat.
  • Butir embun menyatu walau tidak bersatu. Menyentuh tapi tidak tersentuh. Hidup pun akan senang, saat hati tenang. Embun pagi pun terlihat Tuhan.
  • Ada waktunya yang besar akan berhenti membesar. Juga, ada waktunya yang kecil akan membesar.
  • Fokus memang hanya hal kecil. Namun, bila terus dicicil menjadi kunci untuk berhasil..
  • Berikan anak Anda ikan, maka dia hanya akan hidup satu hari. Ajarkan anak Anda memancing, maka dia akan hidup selamanya..
  • Pikiran itu seperti jendela. Saat dibuka lebar, udara dan cahaya pun mudah masuk. Tapi harus diberi teralis, agar apa yang tidak diperlukan oleh si tuan rumah, jangan dibiarkan masuk…
  • Mengapa masih banyak orang susah di tengah alam yang indah berlimpah? Bukankah untuk sukses di kehidupan ini, Tuhan sudah memberi manusia bekal? Namanya akal…
  • Pagi hari ada peluang. Siang hari ada peluang. Sore hari ada peluang. Menjelang malam ada peluang. Malam pun ada peluang. Hidup ini penuh peluang. Lalu, apa yang menghalang?
  • Seorang pemenang bisa melihat nun jauh di sana, walau belum terlihat… Seorang pemenang mempunyai keyakinan bahwa ada tanah indah di seberang sana… Pemenang tahu arah ke mana yang akan membuat dirinya menang…
  • Untuk terbang menuju ke tempat tujuan, kepala harus fokus melihat ke depan. Tidak boleh menengok ke belakang. Karena keseimbangan akan hilang…
  • Bersama itu ya bersama-sama. Bersama itu butuh kesabaran. Kadang bersama itu perlu menunggu. Kadang bersama itu perlu menahan diri. Agar semua sama karena bersama…
  • Memang hidup ini berat, namun selama Allah masih memberikan nafas, maka MENYERAH itu HARAM hukumnya…
  • Ringan membuat mudah melayang. Terbang ke mana yang diinginkan. Mengapa manusia suka bawa beban? Mengapa manusia sering beratkan badan? Mengapa manusia sulit jadi ringan? Padahal, ikhlas sudah diajarkan…
  • Bila aku terus berjalan, maka suatu saat… aku pasti menemukan apa yang kuinginkan…
  • Resiko memang bisa melukai, namun saat resiko dihadapi dengan latihan disiplin tinggi, maka hasilnya bernama prestasi.
  • Seringkali orang menyepelekan hal kecil, padahal justru.. hal kecillah yang memberikan keindahan…
  • Manusia kecil yang punya cita-cita, dapat membuat sesuatu yang besar.
  • Banyak hal yang terbalik-balik dalam hidup ini. Kadang kita menjalani yang seharusnya tidak kita jalani. Atau, bahkan terkadang yang seharusnya kita jalani malah tidak kita jalani. Jalanilah apa yang harus dijalani…
  • Alam sungguh luar biasa. Setiap makhluk ada caranya berkata. Namun, bila cerita cinta, entah kenapa semua mahkluk bisa merasa sama…
  • Cintalah yang membuat manusia berani bercita-cita.. Bila bersama apa pun pasti bisa.
  • Beban berat hanya bisa diangkat dengan kuatnya semangat…
  • Jalan menuju rejeki bisa dihalangi. Namun, siapa yang bisa menghalangi NIAT untuk menjemput rejeki pagi?
  • Kemenangan seringkali berpihak pada orang yang tenang…
  • Memberi contoh adalah cara mengajar paling efektif untuk generasi penerus
  • Uang bisa membeli tempat tidur, tapi tetap tidak bisa membeli nikmatnya tidur…
  • Sebuah kemauan jauh lebih penting dari sejuta kemampuan… Selalu ada jalan, bagi mereka yang mau berjalan.
  • Ada saatnya aku diam, ada saatnya aku tenang. Ada saatnya aku pun akan melompat tinggi. Semua ada saatnya, temanku…
  • Bahkan yang paling perkasa pun bisa mengantuk. Itulah adilnya sang pencipta. Yang kuat pun ada kelemahannya…
  • Bencana sering kali malah menjadi sebuah peluang untuk menolong tetangga. Alam selalu punya cara untuk membuat manusia semakin saling cinta…
  • Ada banyak cara untuk menang. Kadang, hanya perlu tenang-tenang…
  • Gemerlap muncup karena ada gelap.
  • Dengan mengangkat, justru terangkat…
  • Hanya ikan yang lapar yang mudah dipancing.
  • Untuk menguasai dunia, kuasai dahulu pikiran anda.
  • Bila mau mengatur, semua akan teratur…
  • Alam mengajarkan bahwa di dunia ini pasti ada perangkap. Tetap waspada agar tidak terperangkap.
  • Saat kehidupan ditanyakan, maka tidak akan pernah ada jawaban. Saat dijalankan dengan ikhlas, arahpun jadi jelas…
  • Hanya dengan mengalami Anda mudah memahami.

Yang ku mau

Kisah manusia penuh warna, dan tak ada habisnya. Salah seorang sahabat perempuan, telah berpisah bertahun tahun dari suaminya, namun masih terikat status perkawinan karena belum memiliki surat cerai. Dua anaknya tinggal bersama kakek neneknya di sebuah kota kecil di Sumatra. Dia jatuh cinta dan berhubungan dengan seorang laki-laki yang baru saja bercerai resmi dari istrinya dengan satu orang anak perempuan. Meski sudah resmi bercerai, laki-laki ini masih tinggal serumah dengan mantan istri dan anaknya, dengan alasan mengurusi anak karena mantannya bekerja sebagai pramugari dan akibatnya sering tugas berhari-hari tidak pulang.

Karena cintanya, sahabatku membiayai laki-laki yang tidak memiliki penghasilan karena menganggur. Apa pun permintaan lelaki ini diturutinya, menyewa apartement (meski tidak seratus persen karena harus mondar mandir ke rumah mantan istri untuk menemani sang anak ketika istrinya terbang), membiayai mobil, pakaian, makan, berobat ke rumah sakit, sampai biaya sekolah anaknya. Rela hutang pinjam demi memenuhi permintaan kekasihnya.

Herannya, lelaki ini tidak bisa memberikan apa yang dimaui sahabatku: sebuah pengakuan. Lelaki ini selalu mengelak jika ditanya oleh teman-temannya mengenai hubungan mereka. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Berkali-kali kata putus, akhiri saja hubungan ini, sudah tidak bisa lagi hidup bersamamu, terucap. Namun berkali-kali juga mereka berbaikan lagi.

Hingga akhirnya sahabatku hamil dan melahirkan seorang anak perempuan hasil hubungan mereka. Perjalanan hidup yang berliku. Dia tidak ingin keluarga dan anak-anaknya tahu tentang kondisi ini. Hingga harus mengungsi ke tempat asing untuk melahirkan bayinya. Pertentangan batin antara mempertahankan sang bayi yang dikandungnya dengan menggugurkannya pernah menghantuinya berbulan-bulan. Sempat terpikir untuk memberikan bayinya untuk diadopsi. Beberapa teman berusaha membujuk agar mereka menikah saja, secara agama, agar anak yang dilahirkan memiliki status yang jelas. Namun ternyata permasalahannya tidak sesederhana itu.

Hingga saat ini, teman-teman tidak mengetahui keberadaan sahabatku dan bayi perempuannya. Kekasihnya tetap tidak mau terbuka tentang hal ini kepada teman-temannya.

Betapa rumitnya kisah kehidupan mereka. Lebih disayangkan lagi, ada bayi mungil, mahkluk suci tanpa dosa yang terlibat di dalamnya. Bagaimana masa depannya kelak?

Ku tau yang ku mau

Satu lagi cerita tentang masalah hubungan suami istri. Salah seorang sahabat, usianya sudah 50 tahun lebih. Dia menikahi istrinya dua kali, secara islam sesuai dengan agamanya, dan secara katolik sesuai dengan agama sang istri. Tentu saja saya membayankan bahwa awalnya mereka begitu saling mencintai hingga melakukan pernikahan secara 2 agama. Setelah menikah, mereka tetap memegang agama mereka masing-masing. Dikaruniai 2 orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa, satu sedang kuliah di Australi dan satu lagi di bangku SMP di Jakarta.

Hubungan suami istri sudah hambar. Suami sibuk dengan berbagai kegiatannya sendiri. Istri yang juga bekerja dan memiliki posisi penting di kantornya, lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Mereka sudah pisah kamar selama bertahun-tahun. Beberapa kali suami jatuh cinta pada perempuan lain. Bahkan pernah hampir menikah, namun saat meminta ijin pada istrinya sang istri menolak dengan alasan tidak ada perceraian dalam agamanya. Pernikahan pun batal. Namun hubungan suami istri pun tidak berubah. Masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan urusan sendiri-sendiri. 

Suami menjalin hubungan dengan perempuan lain lagi. Kali ini keluarga perempuan ini mendesak lelaki tersebut untuk menikahi perempuan tersebut. Hingga akhirnya mereka menikah secara agama. Lelaki ini merasakan kebahagiaan yang selama ini dicarinya, katanya. Bisa beribadah bersama, sholat, puasa, tarawih dan bahkan berangkat ke tanah suci. Namun karena statusnya masih terikat perkawinan dengan istri pertama, lelaki ini masih tinggal di rumah bersama istri pertama. Istri kedua tinggal di tempat lain. Entah sampai kapan.

Memang hidup ini penuh cerita warna warni. Ada yang tidak kumengerti, ada yang bisa kupahami. Lalu apa yang membuat sebuah rumah tangga menjadi seperti ini, atau seperti cerita lain dimana suami istri berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan alasan yang salah. Apakah rumah tangga mereka bisa dikatakan utuh jika suami istri sudah tidak lagi saling mencinta, tidak lagi berkomunikasi, tidak lagi menghabiskan waktu bersama, dan tidak lagi tidur satu ranjang? 

Aku sungguh tidak mengerti.